Menit di Bulan Desember: Cerita Bandung

2:28 AM

Seperti yang pernah aku sampaikan di post tentang Bandung sebelumnya, bahwa aku akan kembali ke Bandung. Yak aku kembali ke Bandung, kali ini untuk sedikit menjelajahi kota Bandung, terutama kuliner! Tanggal 19 sampai 21 Desember aku menghabiskan hari di Kota Bandung dan mengunjungi beberapa kafe dan satu galeri. Kunjungan kali ini aku dan seorang teman menginap di sebuah bed and breakfast yang terletak di dekat Tol Pasteur, Cottonwood. Tempat yang, demi Tuhan, sangat nyaman dan bikin tidak ingin pulang.

Sebelumnya biar aku ceritakan kronologi keberangkatan dari stasiun Gambir sampai akhirnya tiba di Cottonwood. Tiket di tangan untuk kereta keberangkatan pukul 8.20 pagi. Sayangnya lagi-lagi aku terlambat karena semalaman tidak bisa tidur dan baru tidur pukul 4 pagi. Akhirnya ketinggalan kereta, lagi. Harus beli tiket, lagi. Dan menghabiskan waktu dua jam lebih untuk menunggu keberangkatan selanjutnya, pukul 10.50.

Sesampainya di Bandung, langsung mencari angkutan umum menuju Pasteur. Ternyata tidak sulit, hanya harus berganti satu kali dan jaraknya tidak terlalu jauh meski tergolong cukup macet sore itu. Di tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun deras sekali. Menunggu hujan reda, kami mampir ke BTC (Bandung Trade Center). Tempat pertama yang kami singgahi sesampainya di Bandung, mall. Sedih. Hari sudah semakin sore, hujan belum juga reda. Lalu, kami terpaksa menerobos hujan dan naik angkutan umum selanjutnya yang membawa kami ke Pasteur. Tidak sampai sepuluh menit kemudian kami sudah tiba di samping tol pasteur. Lalu kami turun dan berjalan sekitar 15 menit dari pinggir jalan raya sampai Cottonwood.

Malam pertama di Bandung kami habiskan di penginapan saja. Di dekat tol Pasteur sebenarnya ada sebuah tempat bernama Amigos, penasaran ingin mengunjungi dan makan malam di tempat itu, tetapi sampai di tempat menjadi ragu karena sama sekali tidak ada orang dan di ruangan sebelah yang terdengar suara wanita bernyanyi, saat diintip isinya bapak-bapak, karena ngeri akhirnya kami memutuskan untuk beli makanan di warung pinggir jalan dan makan di penginapan sambil mengobrol. Mengingat dining area di penginapan sangat menyenangkan. Selebihnya kami habiskan dengan mengobrol di kamar sambil menonton film.

Hari berikutnya, bangun pagi pukul 8.00 lalu mandi dan sarapan. Lalu, bersiap-siap dan mulai bertualang berkeliling Bandung. Oh iya, kami hanya menginap satu malam di Cottonwood. Destinasi pertama adalah Pabrik Kopi Aroma. Kopi ini terkenal enak dan wangi, aku tahu tentang kopi ini dari seorang teman di Jakarta. Karena suka kopi, jadi penasaran dan akhirnya mendatangi Kopi Aroma. Tempatnya merupakan pabrik dengan bangunan tua. Setiap harinya, mereka hanya menyediakan kopi yang dengan jumlah terbatas, jadi kalau tidak cepat datang, bisa-bisa tidak kebagian. Saat kami tiba di sana, sudah ada sekitar lima orang lainnya yang antri untuk membeli kopi. Kopi yang sudah digiling halus disediakan dalam wadah-wadah besar, lalu baru dimasukkan ke dalam bungkusnya sesuai dengan yang dipesan. Jadi, saat menerima kopi, dapat dirasakan bubuk kopi masih hangat dan wangi bubuk kopinya sungguh menggiurkan. Ingin rasanya mencari warung terdekat dan menyeduh kopi kami. Empat bungkus kopi aku masukkan ke dalam tas, setiap membuka tas, wanginya menyeruak menyegarkan hidung. Ah bahagia sekali. Kami meninggalkan Kopi Aroma dengan antrian yang semakin mengular.

Destinasi selanjutnya adalah Selasar Sunaryo Artspace. Tujuannya untuk makan siang di Kopi Selasar dan berkunjung ke pameran #Transit, pameran dari program residensi yang diadakan oleh Selasar Sunaryo Artspace. Sesampainya di sana, kami langsung melihat-lihat pameran #transit. Setelahnya makan siang yang kesorean di Kopi Selasar. Aku mencoba pasta, Tuna Cheesy Cream, yang demi Tuhan! ENAK BANGET! Cheesy Cream Pasta terenak yang pernah masuk ke perut dan masih terbayang rasanya sampai sekarang. Pokoknya, kunjungan ke Bandung selanjutnya akan ke Kopi Selasar lagi dan makan pasta ini lagi. Hehe. Selain itu, kami pesan Cafe latte, coffee flavor Irish cream, Strawberry and Peach smoothies. Untuk makanan, temanku memesan Maccaroni. Harga makanan relatif murah karena untuk itu semua kami hanya menghabiskan 163.00 termasuk pajak. Relatif murah di sini tentu saja dibandingkan dengan kafe Jakarta, ya.

Relatif murah juga karena lokasi Selasar Sunaryo yang bisa dibilang ekslusif. Berada di Dago Pakar, dengan pemandangan dari atas bukit yang wow, kalau malam lebih wow lagi sih pasti. Walaupun tempatnya di bukit dan angkutan umum yang lewat jarang tempat ini termasuk yang ramai pengunjung dan sebagian besar anak muda tentunya. Selasar Sunaryo Artspace sendiri terbagi ke dalam beberapa bagian, ruang-ruang pamer yang berjumlah tiga, Kopi Selasar (kafe), amphitheater, hanggar pertunjukkan, rumah panggung, dan toko suvenir. Sayang, saat itu tidak ada kegiatan lain di sana selain Pameran, jadi tidak banyak yang bisa dinikmati selain keindahan arsitektur tempat itu.

Waktu menunjukkan hampir pukul 17.00, kami memutuskan untuk turun dan berpindah ke lokasi lain. Di perjalanan menuju Dago Bawah, kami melihat lalu lintas menuju Dago Atas mulai padat. Kami bersyukur bisa sampai di sana sebelum sore. Destinasi kami selanjutnya adalah Maja House, tapi di tengah jalan kami melewati sebuah kafe dengan spanduk-spanduk yang memamerkan menu ice cream dan dessert yang menggugah selera, jadilah kami mampir untuk mencicipi, kafenya ternyata baru diresmikan tiga hari, namanya Caffe Bene. Tema yang diusung kafe tersebut adalah Korean. Interior dibuat sedemikian rupa menyerupai kafe di Korea (setidaknya ini hasil perbandingan dengan kafe yang biasa aku lihat di serial Korea). Ruangan diberi penerangan dengan warna kekuningan, dengan meja-meja dan kursi-kursi kayu, yang memberikan kesan hangat dan nyaman. Lalu di sudut kiri ujung kafe terdapat rak-rak buku. Untuk perokok, terdapat area merokok di sisi kiri dan kanan luar bangunan. Di sisi kanan luar juga terdapat ruang kecil yang sepertinya dapat dipergunakan oleh pengunjung yang ingin melakukan semacam rapat atau keperluan sejenis. Aku memesan roti tawar tebal dengan puffed cream dan topping; potongan pisang, almond, dan saus cokelat, temanku memesan tiga scoops ice cream. Untuk harga standar, yakni 20-35 per menu. Dengan kenyamanan dan kehangatan yang diberikan oleh Cafe Bene, harga tersebut bukan masalah besar.

Setelah mengkonsumsi glukosa yang cukup untuk tambahan energi, kami melanjutkan perjalanan menuju Maja House yang terletak hampir di daerah Lembang. Dari Dago kami berjalan kaki menuju Mekar Sari untuk mencari angkot menuju Setia Budi. Kami menghabiskan sekitar 20 menit sebelum akhirnya sampai di Setia Budi. Kami berpegang teguh pada GPS, yang menunjukkan; dari Setia Budi menuju Maja House kami memerlukan waktu satu jam berjalan kaki. Jangan tanya kami bersedia berjalan kaki. Tiga menit berjalan, ada angkutan umum yang lewat begitu saja. Kami lanjutkan berjalan, dengan harapan akan ada angkutan lainnya yang lewat, 20 menit berjalan dan tidak ada angkutan umum lainnya. Sepertinya angkutan tersebut adalah angkutan terakhir. Lalu, hujan mulai turun, kami buka payung dan tetap berjalan.

Perjalanannya terlalu jauh dan medan yang ditempuh terlalu sepi. Di awal, kanan kiri kami perumahan warga, lalu berubah menjadi pabrik, lalu berubah menjadi taman terbuka, bahkan kami sempat melewati sebuah tikungan gelap gulita yang di sisi kirinya tebing. Dan baik di depan ataupun belakang tidak terlihat ada orang lain yang berjalan kaki, hanya kendaraan yang berlalu lalang. Lalu, semakin tinggi dan kami mendapati mulai banyak tempat hiburan seperti kafe, restoran, hotel. Setelah 35 menit berjalan kaki, ada sebuah motor berhenti dan menanyakan tujuan kami. Bapak baik hati itu, kemudian memberikan kami tumpangan sampai ke Maja House. Sepanjang jalan aku menceritakan kenapa kami berjalan kaki. Terima kasih banyak Bapak, yang tidak aku ketahui namanya, untuk tumpangan malam itu.

Sesampai di Maja, kami langsung menuju ke Sugar & Cream yang terletak di lantai tiga. Malam itu, kebetulan akan berlangsung acara, jadi saat kami datang, walaupun terbilang masih terlalu dini, pukul 21.00, tempat sudah mulai ramai dengan orang-orang yang sedang mempersiapkan acara. Kami diberikan dua opsi tempat; di dalam ruang klub atau di terrace. Kami memilih terrace yang menghadap langsung ke lautan cahaya lampu kota yang terlihat seperti bintang. Untuk menikmati meja di terrace Sugar & Cream, terdapat minimum purchase yakni Rp 100.000/orang. Di terrace itu disediakan sedikitnya 7 mini bed dengan meja kayu kecil di atasnya, untuk menikmati malam sambil berbaring. Disediakan juga meja-meja rendah dengan kursi yang juga rendah untuk mereka yang datang dengan jumlah massa yang lebih banyak, yang tidak cukup di atas mini bed. Udara malam terasa menusuk, maklum lokasinya yang dekat dengan Lembang dan berada di atas bukit membuat tekanan udara menjadi rendah, jaket yang dikenakan pun tidak mampu menangkal dingin. Terlebih, jaket itu sebelumnya sudah menerjang hujan. Tapi, aku takjub dengan muda-mudi yang datang ke tempat itu, di udara sedingin itu, mereka datang dengan dress mini, rok pendek, dan sleveless. Di Jakarta aku boleh sombong, sok keren, tapi ternyata di Bandung aku yang kampungan, euy. Hahaha

Semakin malam semakin ramai dan acara sudah dimulai, lepas pukul 22.00 lampu di terrace dimatikan, cahaya yang datang berasal dari kerlip lampu di dalam yang menembus kaca-kaca besar. Waktu menunjukkan pukul 01.30, lalu kami putuskan untuk meninggalkan tempat kami. Sambil menelepon taksi, kami duduk di tangga dekat parkiran bersama beberapa anak muda Bandung lainnya. Kendaraan banyak yang baru saja tiba, sepertinya ingin menikmati pesta di atas. Tapi, tidak sedikit juga orang-orang yang mulai meninggalkan Maja House dan menuju tempat lain. Sekitar 30 menit kemudian taksi kami tiba. Taksi tersebut langsung kami arahkan ke Stasiun Bandung.

Kami ke Stasiun Bandung bukan untuk langsung pulang tentu saja, mana ada kereta pukul dua dini hari. Kami ke stasiun karena kami tidak menyewa penginapan untuk bermalam. Jadi, kami memutuskan untuk tidur di ruang tunggu stasiun. Yah lumayan walaupun keesokkan paginya badan terasa kaku karena tidur di atas bangku besi dingin. Apalah arti menyebut diri backpacker tanggh kalau belum pernah menemukan diri tidur di sembarang tempat. Hahaha. Sesungguhnya ini hanya excuse, kami hanya tidak ingin membuang uang lebih saja untuk penginapan. Kami tidur, tapi tidak benar-benar terlelap, aku menyadari sempat dua kali mati listrik singkat.

Paginya, kami terbangun oleh suara orang-orang. Ternyata sudah mulai ramai dan waktu menunjukkan pukul 06.00. Duduk dan mengumpulkan nyawa sebelum akhirnya ke toilet terdekat untuk cuci muka, setelahnya mencari sarapan di kisaran stasiun. Kami mencoba bubur ayam khas Bandung yang kaldunya bening, bukan kuning (seperti yang kebanyakan ditemukan di Jakarta). Setelahnya kami kembali menunggu kereta di ruang tunggu dan begitu kereta datang kami langsung menaiki kereta dan mencari tempat duduk kami. Lalu, mengobrol sampai masinis mengecek tiket kami dan sisa perjalanan menuju Jakarta kami habiskan dengan tidur dan baru terbangun saat kereta sudah mencapai Cikampek.

Perjalanan yang amat sangat melelahkan dan menyenangkan tentunya. Bentuk petualangan baru yang bagus untuk kesehatan jiwa. Sesampainya di rumah, kembali kuhabiskan waktu untuk tidur dan baru terbangun pukul 18.00 sore.

Perjalanan selanjutnya kemana, ya?

Ada yang mau menjadi partner perjalananku?

 photo DSC01226_zps52142da7.jpg
Kamar Kami di Cottonwood: The Mulberry Tree Room
 photo DSC01323_zps937e45dc.jpg
 photo DSC01304_zps8c018b6a.jpg
 photo DSC01312_zpsac44ebe2.jpg
Tiga foto di atas adalah Selasar Sunaryo Artspace
 photo DSC01325_zpsa4bafccb.jpg
 photo DSC01327_zps41cce92e.jpg
 photo DSC01328_zpsb6388616.jpg
 photo DSC01330_zps6a17f5ca.jpg
Empat foto di atas: suasana dan menu Caffe Bene
 photo DSC01338_zpsd8bff9fd.jpg
Makan malam kami di Sugar & Cream
 photo DSC01348_zps5dcf5a43.jpg
Pemandangan makan malam kami

Cheers and Beer,
Lisnaadwi

You Might Also Like

2 Comments

  1. Ka kalo kemaja house sama selara nya bisa naik angkutan umum gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, terima kasih udah mampir. Bisa banget. Kalo ke Selasar bisa naik angkot yang Ciburial (warna ijo tua), naiknya dari Dago, turun di depan Selasar langsung. Ke Maja House bisa juga naik angkot, tapi angkot ke Maja terakhir jam 6/7 gitu. Karena kalo ke sana selalu malem, aku nggak tau angkot yg ke Maja apa dan naik darimana. Pokoknya ke kisaran Setiabudi dulu, dari situ nyambung angkot yang ke atas.

      Delete

Instagram

Subscribe