Tuhan, Takdir, Jodoh

3:51 AM

First of all, maaf post kali ini melenceng dari tema besar blog ini. Tapi topik ini bener-bener numpuk di kepala, aku cuma butuh ngeluarin ini semua dari kepala. Tujuannya: supaya nggak nguap dan dilupain. Dan berhubung ini blog satu-satunya (well, ada tumblr sih, tapi tumblr beda manfaat) jadilah, aku menuangkan ini di sini.

"A good trip = mendewasakan. A good conversation = mencerdaskan"

Ini semua berawal dari sebuah percakapan yang (nampaknya) nggak akan pernah selesai dan (nampaknya juga) nggak akan pernah diselesaikan, sebuah percakapan tentang HATI. RASA. CINTA. Terlalu jauh sih kalau mau ngomong cinta. Love is too complicated. Ini percakapan antara dua atau tiga atau empat orang perempuan yang diawali dengan pernyataan sederhana "Aku lagi suka sama seseorang" dan here it goes the story for the whole week or month. Sampe pernah ada yang bilang "Kalau mau tau, perempuan lagi suka sama siapa, dengerin aja ceritanya baik-baik, dan cari satu nama yang paling sering disebut". There it is!! Kadang perempuan bisa se-obvious itu kalau lagi suka sama seseorang. We don't mind to let the universe know about it. Seorang teman pernah bilang, 
"once the message spread, the universe will help" 
Message here refers to the feeling. And I believe that. Aku menyebutnya, campur tangan semesta.

Berbagi cerita ke orang-orang di sekeliling tentang rasa karena kita nggak bisa nyimpen ini sendiri, terlalu menggebu-gebu dan mudah mengembang, bisa-bisa dada ini pecah. Dan lagi, siapa sih yang nggak suka denger cerita bahagia?

Di sekian banyak momen pasti pernah denger juga - "Ini, tuh, beda. Aku nggak pernah nemuin cowok kayak dia" - pernyataan yang pasti pernah keluar dari mulut perempuan manapun. Apanya yang beda? Orangnya beda? Karakteknya beda? Tingkah lakunya beda? Agamanya beda? Atau semata-mata, 'rasa'nya yang beda? Aku lebih mengiyakan ke 'rasa'nya yang beda. Karena akan nggak adil untuk membandingkan dua orang yang emang beda. Apalagi ketika ngebandingin, bawa-bawa agama. Ngaco! Prinsip aku: hanya perbandingin dua hal yang setara dan jangan pernah ngebanding-bandingin dua hal yang nggak sebanding. Balik ke statement awal, mereka ucapin pernyataan itu dengan senyum mengembang dan mata berbinar. See, jatuh cinta itu indah.

Jatuh cinta memang indah, kalau lagi merasakan atau paling nggak, bisa berempati sama yang lagi merasakan. Kalau nggak? Most of perempuan usia mid twenties, atau menjelang mid twenties biasanya lagi rawan insecure sama yang namanya cinta. Yang masih single dan seems tidak menemukan siapapun di sekelilingnya yang bisa diprospek, mulai feeling insecure of her loneliness. Yang udah punya pacar mulai insecure of the feeling "is he the one?" dan fase ini akan terus berlangsung sampai si perempuan meninggalkan usia 25 tahun (based on pengamatanku ya).

'The one'. Jodoh. Bagaimana cara mengetahui seseorang itu jodoh kita atau bukan? | Bertanya sama Tuhan. | Oke, tapi Tuhan kan nggak serta merta menjawab dengan "iya, dia jodoh kamu" atau "bukan, dia bukan jodoh kamu". Tuhan menjawab dengan mengirimkan tanda. Bagaimana kalau kita sangat dimabuk cinta sampai nggak menyadari tanda yang dikirim Tuhan? Bagaimana kalau kita sadar akan tanda yang dikirim Tuhan, tapi kita denial karena kita maunya orang yang kita cinta sekarang yang jadi jodoh kita? | Tuhan punya lebih banyak cara untuk memisahkan. Takdir. Semua sudah ada jalannya.

Well, untuk takdir atau destiny, aku setuju. Semua yang terjadi di alam semesta ini, merupakan rencana Tuhan, sudah ditakdirkan begitu adanya. Apapun yang terjadi dan tidak terjadi, pasti ada alasan di baliknya. Kita yang perlu 'eyes wide open' untuk melihat alasan/hikmah/pelajaran dari setiap kejadian.

Untuk jodoh, pembahasan yang bisa jadi panjang banget. Aku dan temanku sepakat satu hal, statement 
"Jodoh di tangan Tuhan" itu overrated
Kalau jodoh di tangan Tuhan, berati cuma Tuhan yang tau jodoh kita? Eh tunggu, Tuhannya siapa dulu nih? Tuhannya aku? Tuhannya kamu? Atau Tuhannya mereka? Aku, sih, percayanya Tuhan cuma satu, manusia aja yang terlalu angkuh dan memberikan banyak nama kepada Tuhan Yang Esa (Tunggal). Balik ke persoalan jodoh, artinya balik ke pertanyaan bagaimana kita tau seseorang jodoh kita atau bukan? Pernikahan aja nggak bisa dijadikan tolok ukur bahwa dua orang berjodoh karena pernikahan pun bisa rusak di tengah-tengah.

Mamanya teman pernah berkata, "Waktu kau masih di dalam rahim, kau ditanya sama malaikat ingin berjodoh dengan siapa. Kalau kau ingin tau siapa jodoh kau, ya ingat-ingat aja jawaban kau waktu itu". (Tanteeeeeee -___-*)

Masih dari tante yang sama, "Jodoh kau itu dekat sama kau". (Nah, ini pernyataan paling logis tentang jodoh. Yang dimaksud 'dekat' sama si tante adalah jodohmu itu seseorang dari lingkungan sosial yang sama denganmu. Misalnya, kamu berkecimpung di dunia seni. Ya, jodohmu juga akan datang dari dunia yang sama. Jadi, mulai deh buka mata sama yang deket, nggak usah mengharapkan yang jauh di luar lingkungan sosialmu, ya walaupun nggak menutup kemungkinan jodohmu yang di seberang sana. Intinya, ngarep nggak salah sih, asal realistis dan logis.)

Jodoh mungkin di tangan Tuhan, tapi aku yakin Tuhan juga melihat dan menghargai effort kita untuk mendapatkan yang kita mau, yang Tuhan rasa baik untuk kita. Kita bisa memilih untuk jadi, yang menunggu jodoh datang menghampiri atau yang berusaha mendapatkan jodoh kita. Pasokan cowok di luar sana sudah semakin menipis, so aku mau jadi golongan yang berusaha mendapatkan jodoh. Selain "Jodoh di tangan Tuhan itu overrated", aku dan temanku sepakat hal lain 
"Jodoh kita, kita yang tentukan"

Ini cerita terakhir.

Cerita teman dengan temannya.
A: What if, one day I get married, waking up in the morning and finding this man so-called-husband next to me and thinking that I don't like him as much as the first time we met?
B: Nah itu, kalau dalam sebuah hubungan cuma mikirin perasaan, kapan secure-nya?
A: Iya ya, perasaan itu kan fluktuatif.

Dari percakapan yang diceritakan kembali ke aku itu, aku menyimpulkan, ketika sudah setuju untuk menjalin hubungan, sudah bukan semata-mata tentang 'rasa' lagi. Hubungan itu tentang komitmen. So, kalau sudah punya rasa, sudah siap berkomitmen ya silakan dijalin hubungannya. Kalau sudah menjalin hubungan, diingat dan dijalankan komitmen yang sudah disepakati, jangan berhenti di tengah jalan hanya karena 'rasa' yang kerap berubah.

:)


See, pada akhirnya post ini bukan jadi satu kesatuan cerita yang utuh. Hanya jadi kumpulan isi kepala yang nggak berurutan. Nggak ada kesimpulan akhir, nggak ada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, dan nggak ada maksud untuk mempengaruhi pikiran siapapun. Seperti yang aku sebut di awal, ini percakapan yang nggak akan pernah selesai karena percakapan semacam ini terlalu menarik untuk di akhiri dengan satu statement dangkal. Well, setidaknya, sekarang aku merasa sedikit lega setelah menuliskan isi kepalaku.

Terima kasih bagi yang sudah berkenan membaca.


Cheers and Beer,
Lisnaadwi

PS. Bagi yang sedang jatuh cinta, selamat menikmati. Rasa itu indah kan? Perjuangkan yang kamu cintai, ya :)

You Might Also Like

1 Comments

  1. iya, ga bakal abis ngomongin kaya ginian ya, Na. Sampe sama orang yang beda-beda pun. Hahaha.
    Kalau aku sih jalanin aja, tunggu kejutan siapa sih si jodoh. 8)

    ReplyDelete

Instagram

Subscribe