Javanese Tradition

7:39 PM

Berapa kali kamu pernah menghadiri sebuah pesta pernikahan? Gue pribadi nggak banyak datang ke pesta pernikahan, jadi kurang tau banyak tentang adat atau tradisi pernikahan tiap suku. Pada akhir bulan Juni kemarin, gue menghadiri pernikahan kakak sepupu gue dan dia menggunakan adat Jawa. Gue orang Jawa (well, my parents are at least), tapi gue sama sekali tidak tahu-menahu tentang adat Jawa. Mungkin gue Jawa murtad. Hahaha.

Untuk pernikahan adat Jawa, ini kali kedua gue kunjungi. Yang pertama dulu, sejujurnya gue agak lupa karena udah lama banget dan saat itu gue masih kecil. Kesempatan kedua gue menghadiri sebuah pesta pernikahan dengan adat Jawa, gue benar-benar norak dan kampungan karena gue clueless soal adat ini! What a shame! L

Acara resepsi pernikahan dilakukan menjelang siang, sekitar pukul 11. Begitu tiba, semua kursi sudah penuh. Perkiraan kasar jumlah undangan yang datang siang itu, mencapai 500 orang lebih. WOW! Semua undangan menempati kursi, pengantin masuk, kemudian masuk sekelompok wanita dengan pakaian yang seragam, tidak lama diikuti oleh sekelompok lelaki yang juga dengan pakaian seragam, membawa serta baki (nampan) yang berisi kotak snack dan minuman berupa teh dan air putih (dengan menggunakan gelas besar). Lalu, wanita dengan pakaian seragam tadi, memberikan makanan yang dibawakan kepada setiap undangan. Setelah semua undangan mendapatkan snack, wanita dan lelaki tadi menghilang. Namun, tak lama kemudian wanita-wanita tadi kembali dan tetap diikuti sekelompok lelaki tadi yang kembali membawa serta baki di tangan mereka, kali ini dengan piring-piring berisi sup ayam jamur di atasnya. Hanya sup tanpa nasi. Berdasarkan info dari nyokap, tiap resepsi pernikahan beda menu. Di lain kesempatan ada yang menyuguhkan semacam sup buah sebagai pembuka.

Setelah makanan pembuka berupa sup itu, pengantin meninggalkan altar untuk berganti pakaian. Setelah pengantin kembali, wanita dan pria kembali memasuki area tetap dengan bakinya, kali ini dengan piring-piring dengan menu makanan berat. Nasi, rendang, telur, dan acar (FYI, sebagian besar orang Jawa sangat suka acar. BUT NOT ME!). Tetap dengan cara penghidangan yang sama. Serve satu demi satu.

Setelah makan, acara selanjutnya adalah semacam pembacaan doa oleh tetua dan pemuka agama setempat.

Dan, setelah itu semua selesai, begitu pula dengan acara resepsinya. Pengantin meninggalkan altar, berdiri dekat pintu keluar, kemudian diikuti oleh undangan, satu persatu meninggalkan tempat, bersalaman dengan pengantin dan keluarganya sebelum akhirnya meninggalkan tempat resepsi.

Gue norak karena sepanjang pengalaman gue, nggak ada di Jakarta yang menggunakan cara seperti itu dalam resepsi pernikahan. Untuk acara makan-makan, makanan dihidangkan dalam bentuk prasmanan dimana setiap tamu bebas mengambil sesuai dengan porsinya masing-masing.

Untuk acara doa, gue rasa sih nggak ada bedanya. Eh tunggu, resepsi pernikahan di Jakarta ada acara baca doa nggak sih? Di resepsi ya, bukan akad nikah.

Lalu, usut punya usut ternyata acara resepsi dengan adat Jawa itu, hanya dilakukan dalam rentang waktu tertentu, misal 3-4 jam saja, berbeda dengan resepsi di Jakarta yang bisa sampai seharian penuh. Jadi bisa dibilang, acara resepsi dengan adat Jawa itu, tamunya numplek blek dalam satu waktu. Kalau di Jakarta kan biasanya suatu resepsi diadakan pukul 09.00-selesai (serah penyelenggara deh tuh mau kapan selesenya). Jadi, bisa lo bayangkan kalau resepsi dengan adat Jawa, undangannya sebanyak seribu orang, berati akan ada lebih dari seribu orang yang akan datang pada satu waktu. Kebayang gak berapa banyak piring dan gelas yang harus mereka siapkan dalam satu waktu? WOW!

Here are some pictures I snap at the wedding. Hope they can describe the situation there.

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

PhotobucketPhotobucket

Cheers and Beer,
Lisnaadwi

You Might Also Like

0 Comments

Instagram

Subscribe