Dua Tiang Tujuh Layar

1:34 PM


Directed by Swargaloka | Produced by The Trees and The Wild | Director of photography: Dimas Wisnuwardono | Sound editor Barlian Yoga

Entah sudah kali keberapa gue nonton Dua Tiang Tujuh Layar (selanjutnya akan gue sebut 2T7L), tapi baru setelah screening di February Screening kemarin, keinginan untuk bikin review-nya keluar.

Pertama kali nonton 2T7L, gue dibikin merinding sekujur tubuh. Indaaaaaaaaaah banget. Kalo nggak inget lagi di warnet, pasti air mata haru sudah menetes :p. Bener-bener dibuat nggak kedip nontonnya.

Tapi, begitu nonton ketiga kali dan seterusnya, gue merasa 2T7L ‘kentang’ alias tanggung. Ada yang kurang sama 2T7L. Bukan, ini bukan masalah durasinya yang cuma 8 menit sekian detik. Setelah gue usut-usut yang bikin gue kurang puas sama 2T7L adalah nggak ada klimaks dalam 2T7L. Ceritanya datar-datar aja, tanpa konflik atau klimaks tapi tau-tau langsung anti-klimaks. Lalu, kurang mendalam juga, bikin pas udah abis “Yah, kok, abis? Kuraaaaang”. Menurut gue, jadi kurang tepat disebut sebagai film ya karena masalah gak ada klimaks tadi itu. Video? Gue pernah baca online (lupa baca dimana), ada yang menyebut 2T7L sebagai musik video, nah kalo ini gue setuju.

Yang paling juara dari 2T7L tidak lain dan tidak bukan adalah SINEMATOGRAFI!! Setuju? Juara. Sejuara-juaranya. Parrrrrrrrrrah. Ya wajar sih bisa bagus banget sinematografi-nya, mengingat yang berperan sebagai DoP adalah Dimas Wisnuwardana. Go check karyanya dan lihat sendiri kenapa gue bilang wajar, click.. Kesimpulan gue, 2T7L adalah contoh gambaran nyata ketika lo membawa seorang untuk terlibat dalam pembuatan film. Photographers do have ‘good eyes’ ;)

Sama ada satu scene yang menarik banget, kalau lo cukup jeli untuk memperhatikan. Kamera shoot ke sebuah kayu, lupa tepatnya apa. Pada kayu itu ada titik-titik air yang netes ke atas meja. Lalu, terdengar lagu Malino. Nah, antara tetesan air dan ketukan lagu itu seirama, cuma terlambat sedetik (sotoy na sotoy). Kurang tau juga hal itu disengaja atau nggak sama sound editornya. Kalo iya, titip pesan buat Barlian Yoga, “anjiiiiiiir sound editor-nya anjiiiiiir” :))

Scene favorit gue dalam 2T7L adalah scene closing yang menunjukkan senyum-senyum Indonesia. Begitu mendamaikan. Nggak mungkin nggak ikut senyum liat scene itu :)

Over all, Dua Tiang Tujuh Layar bagus, gue suka banget. Tapi ya balik lagi, kentang, kurang sedikiiiit lagi. Mendingan dibikin ulang dan dipanjangin gak? Hmmm nggak. Justru takutnya esensi yang udah dipegang 2T7L sekarang malah ilang sama sekali. Mendingan Swargaloka bikin tentang hasil budaya Indonesia yang lain :p. Terus The Trees and The Wild-nya focus di album kedua ;)

I’d love to know your opinion about Dua Tiang Tujuh Layar, too. Let’s share here :)

Courtesy picture of Hai-Online

Cheers and Beer,
Lisnaadwi











You Might Also Like

0 Comments

Instagram

Subscribe