The Three Musketeers: Fight, Love, Live

1:09 PM


Directed by Paul W.S. Anderson | Cast: Matthew Macfadyen, Luke Evans, Ray StevensonLogan Lerman, Milla Jovovich, Orlando Bloom | Written by Alex Litvak (screenplay), Andrew Davies (screenplay)

The Three Musketeers adalah salah satu film yang masuk ke dalam daftar must-watch-movie-this-month gue dan cukup membuat gue penasaran. Di samping bahwa cast-nya cakep-cakep ;), gue penasaran karena it is Three Musketeers, I mean who don’t know Three Musketeers? All for one and one for all. Ditambah, Three Musketeers yang muncul dalam film The Man in the Iron Mask tahun 1998 tiba-tiba terputar ulang di kepala gue. Anyway, agak telat sih baru nonton Three Musketeers setelah beberapa minggu bertengger manis di bioskop. Tapi, setelah akhirnya menonton, rasa penasaran gue terpuaskan.

Three Musketeers terdiri dari tiga lelaki tampan dengan kemampuan pedang dan tarung yang menawan; Aramis, Athos, Porthos. Lalu, ditambah dengan kehadiran seorang remaja, anak mantan Musketeers dari Gascony; D’Artagnan. Di awal, diceritakan bagaimana Aramis, Athos, dan Porthos kehilangan label ‘Musketeers’ karena gagal menjalankan sebuah misi. Lalu, berpindah ke cerita seorang country boy, D’Artagnan yang sedang berlatih pedang dengan ayahnya. D’Artagnan akan pergi ke Paris untuk mencari The Musketeers dan bergabung dengan mereka.

Well, film ini memberikan keseruan yang konstan dari awal film. Terutama karena D’Artagnan benar-benar mengikuti petuah ayahnya untuk, “Get in trouble, make mistakes”. Jadi, dari awal film disuguhkan kesombongan dan kecerobohan remaja muda itu, yang hobinya mencari musuh sejak menginjakkan kaki di Paris. Dan banyak sekali statements witty and silly dalam film ini yang mampu membuat tertawa atau paling tidak tersenyum lebar. Yaa, cukup untuk membuat tertawa dan 100 menit menjadi terlalu cepat berlalu.

Gue suka sekali film ini, pertama karena cast-nya cakep-cakep, Oh forgive me, I just love Musketeers, kuat, cakep, sombong, dingin, percaya diri, cerdas. Gue nipu diri sendiri dan naif kalau tidak menyebut hal ini pertama kali. And my favorite one is Porthos. Satu karakter yang membuat gue tertawa berkali-kali.


Seperti yang gue bilang di awal, film ini menyuguhkan keseruan yang konstan dari awal cerita hingga akhir. Gue sih nggak merasa bosan saat nonton, ditambah film ini dipermanis dengan animasi-animasi yang attractive. Pertanyaan gue, peta itu animasi atau diorama ya? Gue sih yakinnya itu diorama atau semacam miniature. Kalo kata dosen Filsafat Budaya gue, itu adalah contoh hyper-reality (fakta dan fiksi yang sulit dibedakan). Well, bener juga sih.

Canggih adalah kata yang menggambarkan keseluruhan film. Setting film ini adalah pada masa King Louis XIII dan Queen Anne, yang setahu gue memerintah pada sekitar tahun 1615 tapi persenjataan yang dipakai canggih banget. Selain itu, dalam film ini juga diperlihatkan keindahan kota dan interior Perancis. Plus, deretan pakaian khas kerajaan Perancis jaman dulu yang begitu menawan dan perhiasan-perhiasannya yang cantik.

Tapi yang paling penting dari semua itu adalah this is an action movie, a lot of fights but less blood. Well, gue nggak akan tega melihat para musketeers tampan berlumuran darah, disamping kenyataan gue nggak suka darah.

Hal lain yang membuat gue suka film ini adalah dramatisasi. Bagaimana setiap pertarungan, pasti ada bagian slow motion; saat Athor melayang turun ke atas sebuah cano atau saat Porthos menyelamatkan Flachet dari sebuah ledakan atau saat Three Musketeers dan D’Artagnan melawan 40 pasukan cardinal. Membuat detail kecil pertarungan menjadi jelas dan membuat ketegangan meningkat.

Dari segi plot, Three Musketeers ini sedikit mengingatkan gue pada Sherlock Holmes. Buat yang sudah nonton, I hope you know what I mean. But, the fighting strategy is just smart.

Tapi, sayangnya seluruh kecanggihan yang sudah gue jabarkan itu tidak dilengkapi dengan cerita yang menarik. Konflik yang ditawarkan terlalu sepele dan remeh dan common. Dan parahnya ke-common-an itu dibalut dengan alibi “untuk menyelamatkan nama baik Ratu, menjaga kestabilan kerajaan, dan demi Perancis”. Well, nggak bisa disalahkan juga sih karena sepertinya dari awal sudah ditegaskan mengenai cinta kasih, bahwa yang terpenting dari Three Musketeers bukanlah pedang, tetapi hati. “Fight, Love, Live” – D’Artagnan’s father.

Lalu, kehadiran Buckingham menjadi tidak terlalu penting, seolah hanya menjadi tambahan cerita dan pengantar ke The Three Musketeers 2 (yak dengan ending film seperti itu, I’m pretty sure there will be a sequel of the film). I just hope the sequel will be a lot better than this.

Over all, I give 3 of 5. I guess, the fighting scene and all those sophisticated things saved the movie. Kayaknya gue tetep lebih suka Three Musketeers tahun --- yang hanya mengandalkan pedang, kekuatan diri, ketangkasan, kekompakan, dan kecerdasaan. Tapi, seandainya konflik yang diangkat dalam film sekarang ini lebih complicated plus kecanggihan-kecanggihan itu, plus sinematografi yang menawan itu, dan pastinya tetap dengan banyak pertarungan. Film ini pasti akan jadi salah satu favorit gue. Next movie will be better I hope, but, I like this movie tho dan untuk saat ini, gue rasa film ini cukup dimasukan ke dalam kategori “Good Movie”. Well done.

Cheers and beer,
Lisnaadwi

P.S. Pertanyaan terakhir, D’Artagnan-nya nggak kemudaan BANGET ya?















You Might Also Like

2 Comments

  1. ish, eik jadi pengen nonton film ini kan gara2 review mu. Good job Na, keep on writing!

    ReplyDelete
  2. Manda: Tonton gih yah walaupun ceritanya bikin -___-*, ya at least casts-nya bikin 0__0. Hahaha

    ReplyDelete

Instagram

Subscribe