(Not) “Berkunjung ke Rumah Nenek” Story Anymore

2:40 PM

Sewaktu SD, setelah liburan sekolah kita mendapat tugas untuk membuat cerita. Dan kebanyakan dari kita membuat cerita “Berkunjung ke rumah nenek”. Tapi, di malam minggu yang indah – nan melelahkan (yes I’m young and restless), saat sampai di rumah nyokap mengabarkan bahwa nenek gue akan datang. Sepertinya kali ini judul cerita yang akan gue buat untuk peer liburan berubah menjadi “Kunjungan dari nenek”.

My grandma came a long way from Boyolali by bus and she arrived here Saturday morning at 3 AM. Nenek gue ditemani oleh dua orang bude, bude Tun dan Bude Bi. Lalu, ditemani oleh tiga orang sepupu gue, mbak Sri, mas Sigit, dan istrinya mas Sigit (pangapunten mbak, kulo lali asmane pan jenengan -- Auk ah ejaannya bener apa nggak tuh kalimat). Lalu, mereka membawa serta tiga keponakanku yang masih kecil ; Radit, Ratih, dan Anggrek.

Gue sudah amat sangat lama tidak bertemu dengan keluarga gue dari pihak bokap itu. Terakhir pulang ke Boyolali kalo gak salah saat gue masih semester awal kuliah. Dan kali ini mereka semua berkunjung ke Jakarta, well tepatnya ke Cikarang sih, karena pakde gue baru pulang umroh dan pengen semua keluarga berkumpul. That’s why, di malam minggu itu mereka menyempatkan berkunjung ke rumah.

Kunjungan singkat pukul setengah sepuluh malam itu agak membingungkan sekaligus menyenangkan. Seperti yang gue bilang, udah lama banget nggak bertemu semua, jadi saat bertemu mereka malam itu, gue kaget karena they look older than I remember all this time and look really tired. Gue jadi agak perlu usaha dulu untuk mengingat wajah mereka (not my grandma, of course, I remember very well) saat terakhir bertemu. Bahkan, sebelumnya gue menyangka mbak Sri kakak sepupu gue adalah bulek gue. Idiot!!

Honestly, my big family isn’t such a harmonious one. We barely gather, maybe just once a year only on Ied Day. Dan kunjungan malam itu cukup menampar. Karena dalam tradisi Jawa itu seharusnya yang muda menghampiri yang tua, well meskipun konteksnya mereka sedang di Jakarta, tapi tetep aja harusnya keluarga gue mengunjungi mereka dulu di Cikarang. Malamnya gue memutar ulang ingatan kunjungan terakhir gue, serta wajah mereka saat gue berkunjung dulu. Sekarang berbeda jauh dari yang bisa gue inget. Apakah gue sudah selama itu tidak mengunjungi mereka? Sesibuk itukah gue? Begitu kuatkah Jakarta mengikat gue? Apa yang menghalangi gue mengunjungi mereka? Waktu liburan semester banyak padahal. Kenyataannya, gue bisa-bisa aja tuh liburan sama temen-temen gue. Jogja, Pulau Tidung, Pulau Pramuka. Apa memang teman-teman gue seseru itu sampai gue lebih suka menghabiskan liburan bersama mereka? Atau gue yang asing di tengah keluarga gue sendiri? Well, Gue buka kumpulan foto di komputer gue dan tidak satupun foto keluarga gue temukan di situ.

Keluarga kami nampaknya berisi orang-orang Jawa ekstra introvert dan ekstra kalem. Yes, I am pure combination of Javanese, a hundred percent (keluarga bokap Boyolali, keluarga nyokap Klaten. My God, sumpah demi apapun dua tempat itu deket banget lho). Dari kecil kami diajarkan untuk nggak neko-neko, hidup yang lurus aja dan yang pasti behave. Mungkin itu salah satu alasan kenapa tidak satu foto keluargapun gue temukan (‘narcis’ is not include in ’behave’, I guess). Kami keluarga konservatif yang tidak terlalu suka mendokumentasikan hidup karena seharusnya ingatan kami akan lebih baik untuk itu (not me, I guess. But I’ll learn to remember my whole BIG family).

Kejutan manisnya adalah untuk pertama kalinya gue bertemu dengan tiga keponakan manis gue; Radit (7tahun), Ratih (6tahun), dan Anggrek.(2tahun). Saat baru bertemu, semua malu-malu, tetapi setelah 15 menit Radit tampak mulai melunak dan he becomes my favorite by then. He is a really active young boy, he can’t stop moving. Saat sedang berbincang-bincang, Radit duduk di depan gue. Lalu

(Attention! This conversation is supposed to be in Javanese)

Nyokap gue: Nanti nginep aja ya, ke Cikarangnya besok pagi sama mbah dari sini.

Bokapnya Radit: Mau nggak, le? Sekalian nemenin bulek Lisna.
Radit *geleng kepala*.
Nyokapnya Radit: Moso’ punya bulek cantik nggak mau nemenin.
Gue *senyum malu-malu*.
Radit suddenly looks at me with his bright eyes and I just smile at him. Then he walks. Shy. How cute!! Oh my God.
Seperti itulah keluarga gue. Yah one day gue harus menjadi lebih baik bagi keluarga gue sendiri. Seenggaknya dengan keep them around me, so nggak berasa jauh dan asing setiap ketemu. Terutama, karena gue punya keponakan-keponakan manis dengan bahasa Jawa yang lucu (dan pastinya better than me. Yaiyalah!). Dan juga calon keponakan baru yang bulan depan akan lahir, adiknya Radit. Semoga akan sekece Radit ya kamu :*


Now, I’m thinking about making a plan for my next vacation. Visiting my parents’ hometown would be nice, I guess.


Cheers and Beer,
Lisnaadwi

P.S. Dear keponakan-keponakanku, minta ijin ya nanti ke mama-papa kalian dan ke mbah untuk nggak panggil aku dengan ‘bulek’, aku janggal dengan panggilan itu.

You Might Also Like

2 Comments

  1. Ini mirip-mirip kaya yg aku rasain ke keluarga bokap, Na, dan beliau dari Klaten juga. *toss*
    Mungkin karena mereka ga tinggal disini kali ya jadinya ada rasa jauh gitu. Ngobrol2 juga jarang.
    Kangen sama nenekku jadinya. :(
    Btw, panjenengan kalo ga salah satu kata.

    ReplyDelete
  2. Ceritanya bagus sekali! :)
    Semua ada saatnya, jadi tidak perlu merasa bersalah apabila merasa waktu-waktu bersama dihabiskan dengan teman-teman. They also make you happy, right? :) Saya kira malah bagus Lisna skrg memikirkan spending more time with family, in addition to your friend circle.
    I think you're a great aunt! Enjoy life!

    ReplyDelete

Instagram

Subscribe