Jakarta Maghrib: Kehidupan warga Jakarta menjelang Maghrib

5:19 PM



Directed by Salman Aristo | Script by Salman Aristo | Starring Lukman Sardi, Dedi Mahendra Desta, Ringgo Agus Rahman, Reza Rahadian, Adinia Wirasti, and more…

Jakarta Maghrib adalah sebuah omnibus yang terdiri dari lima film pendek dengan cerita yang berhubungan dengan kegiatan atau momentum yang terjadi pada warga Jakarta menjelang maghrib. Serta, satu intersection di akhir yang merupakan bagian dimana setiap pelaku dan kejadian bertemu dalam satu cerita.

Cerita pertama berjudul “Iman Cuma Ingin Nur” yang menceritakan tentang sepasang suami istri, yang tiba-tiba ingin bercinta sore itu, tetapi harus berusaha menidurkan anak mereka terlebih dulu. Well, gue gak tau mesti komentar apa sama cerita ini, dua kali nonton dan dua-duanya gak terlalu gue acuhkan. Gak tau kenapa, gue gak terlalu tertarik sama ceritanya. Kalo kata mas Salman Aristo, dalam cerita ini yang mau diangkat adalah kepercayaan orang tua, “anak bayi gak boleh tidur pas maghrib”. Tapi, sayangnya gue gak merasakan itu, yang menonjol malah betapa inginnya Iman bercinta dengan istrinya, Nur.

Cerita kedua berjudul “Adzan”, bercerita tentang seorang babe pemilik warung sekaligus penjaga mushola yang selalu mengumandangkan adzan, dengan seorang preman mabuk. Sampai sesuatu terjadi pada babe dan membuat preman mabuk mengumandangkan adzan maghrib. Ini adalah salah satu cerita yang jadi favorit gue di Jakarta Maghrib, lucu dan menggugah di saat bersamaan. Kata mas Salman Aristo, cerita ini memang diangkat dari kejadian nyata. Apa yang selanjutnya terjadi pada si preman hayo? :D Tapi di cerita ini gue menemukan bloopers yang amat jelas, yaitu saat babe dan preman sedang bercakap-cakap, si preman minum kopi dan merokok. Shoot depan, terlihat di tangan kiri preman, ia sedang memegang rokok, tetapi saat shoot belakang, yang dipegang tangan kirinya adalah gelas kopi dan ini terjadi berkali-kali. Lalu, babe terlihat pula berkali-kali pakai-lepas peci. Hmmm.

Cerita ketiga berjudul “Menunggu Aki”, tentang lima orang yang sedang berkumpul di taman kompleks untuk menunggu Aki penjual nasi goreng. Ini cerita yang paling nggak gue suka di Jakarta Maghrib. Complicated without solution. Dalam cerita ini, terlalu banyak permasalahan yang ingin diangkat; dari masalah anak-anak muda yang meresahkan warga kompleks lainnya karna ribut, jahil, sampai drugs, masalah membuat polisi tidur seenaknya, masalah parkir sembarangan, masalah ketua RT baru yang kurang sosialisasi ke warga, sampai masalah satpam kompleks yang tidak bisa diandalkan. Tapi, yang gue tangkap masalah utamanya adalah betapa warga kompleks itu entah  sangatlah sibuk dengan urusan masing-masing atau karena sombong, sampai tidak mengenal tetangga, tidak mengetahui berita terbaru sekitaran kompleks, dan saat terjadi permasalahan hanya bisa menggerutu sendiri. Saat ada orang menggebu-gebu untuk bersama menuntaskan masalah tersebut, yang bisa dilakukan adalah walk away back home. Di luar cerita, ada beberapa hal yang ‘gengges’. Setting waktu cerita harusnya sore menjelang maghrib, tetapi kalau diperhatikan langitnya terlihat terlalu terang, ya walaupun sudah dibantu dengan tone redup, tetapi langitnya masih terlalu ‘bersih’ untuk setting langit sore. Lalu scene Desta bermain ayunan itu terasa memaksa dan out of context. Lalu perpindahan kamera dari Desta ke Fanny sangat kasar. Mungkin, akan lebih baik jika scene Desta bermain ayunan dihilangkan.

Cerita keempat berjudul “Cerita si Ivan”, tentang Ivan yang sedang menunggu giliran bermain playstation. Karena kesal akhirnya ia menceritakan kisah horror kepada anak-anak yang sedang bermain PS, yang kemudian membuat anak-anak itu kabur ketakutan. Ini adalah cerita yang sangat Indonesia. Percaya hal-hal mistis. Anak-anak nggak boleh di luar rumah kalo maghrib, nanti diculik kuntilanak atau wewe gombel. Sangat Indonesia. Melalui film ini, digambarkan dengan jelas bagaimana anak-anak Indonesia tumbuh besar dalam kebohongan orang dewasa. Katanya kuntilanak bisa berubah wujud jadi seseorang yang kita kenal. Dari kecil kita diajarkan untuk takut pada mahluk gaib, bukan pada tindak criminal yang mungkin terjadi dimana saja. Kayaknya sampai sekarang anak-anak Indonesia masih dibesarkan dengan konsep ini -__-*

Cerita kelima, “Jalan Pintas”, tentang sepasang kekasih (diperankan oleh Reza Rahadian dan Adinia Wirasti), di dalam mobil dan sedang menuju ke lokasi pernikahan adik si pria dan selama perjalanan terjadilah percakapan yang merambat ke masalah-masalah dalam hubungan mereka. Ini adalah cerita favorit gue lainnya. Cerita ini sangat umum. Cerita yang kita banget. Gue suka karena konsep ceritanya sederhana dan pasti pernah dialamin sama semua orang. Setting tempat sangat terbatas, yakni di dalam mobil dan melewati jalanan khas Jakarta, yaitu keluar-masuk gang, berkelok-kelok. Tapi, meski dengan setting yang terbatas dalam mobil, cerita ini begitu berkesan dan focus. Dan scene yang menjadi favorit gue dari keseluruhan film Jakarta Maghrib-pun terdapat di cerita ini. Scene tersebut adalah twist dari “Jalan Pintas”, yang melempar keluar sang lelaki dari mobil; “Keluar! Ini mobil bokap gue”. Para penonton wanita pasti ngakak berat di scene ini. Harga diri kali, diusir dari mobil kayak gitu. Hahaha.

Cerita keenam, intersection dari Jakarta Maghrib, berjudul “Ba’da”. Seluruh cerita yang diceritakan dalam Jakarta Maghrib berkumpul dalam “Ba’da”; dari Iman yang makan nasi goreng si Aki. Kumpulan warga mengamuk yang ingin menghajar di preman mabuk yang mengumandangkan adzan. Ivan yang ketakutan dipinggir jalan, mengingat ceritanya sendiri yang ia lontarkan pada anak-anak di rental playstation. Lalu, Adinia Wirasti ( “Jalan Pintas”) yang mengemudi sambil menangis, melintas di depan Aki dan Iman. Benar-benar ‘persimpangan’. Di ”Ba’da” ini juga terucap sebuah statement dari Iman, yang menurut gue gong banget dan menancap bagi banyak perempuan, yakni ”Perempuan kalau udah nangis, berasa paling bener aja!”. Dengarlah itu wahai para perempuan. Tapi, jangan salahin perempuan juga sih kalo kenyataannya air mata selalu jadi senjata ampuh.

Yak, itu tadi adalah seluruh review berantakan gue tentang film Jakarta Maghrib. Gue membuat review dari sisi penonton, tanpa membahas teknis, karna gue buta teknis film. So, buat siapapun yang membaca dan paham teknis atau sekedar mau mengoreksi ke-sotoy-an gue, silakan berikan komentar J

Cheers and beer,
Lisnaadwi








You Might Also Like

0 Comments

Instagram

Subscribe