Harry Potter and the Deathly Hallows part 2: It Comes to Its End

8:52 PM



Directed by David Yates| Starring Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Ralph Fiennes, Alan Rickman| Producer David Heyman| Screenwriter Steve Kloves| Director of Photography Eduardo Serra

Bisa dibilang Harry Potter 7/2 menjadi salah satu film yang paling dinanti tahun ini, karena ini merupakan finale dari pertarungan antara Harry Potter dengan Lord Voldemort. Film yang awalnya terancam tidak akan masuk ke Indonesia ini akhirnya berhasil bertengger manis di bioskop-bioskop kesayangan kita, berkat doa dari sekian ratus Potterheads di Indonesia , I won’t thank to Jero Wacik here. JUST NO WAY!

Gue bukanlah salah satu freaky fans of Harry Potter, gue bahkan baru menonton film ini di minggu ketiganya, itupun sendirian. Oh, please, don’t get wrong on me I’m not that pathetic. Setelah film ini menyentuh akhir, like I said, I’m not one of those Potterheads, but when the film comes to this end, I don’t want it to be end. Jujur, bukan karena gue akan merindukan Harry atau Hermione atau Ron (well, yang satu ini sih pengecualian), tapi lebih karena gue merasa kurang puas oleh HP 7/2 ini. The problem is on me, I read the book. Then, on the movie, I found lot of essentials part of the book just not shown and it’s kinda disappointed.

Part yang gue nantikan dari bukunya adalah ketika Albus Dumbledore menceritakan tentang masa lalunya yang cukup kelam dan haus kekuatan, bersama temannya Grindelwald (well, gue agak menantikan karakter ini keluar juga dan ternyata tidak. Oh, my Jamie :( ). Karena gue rasa part ini akan sangat menunjukkan bahwa ternyata Albus Dumbledore tidak selalu semulia itu, he is just a human being too. Tetapi, sayangnya bagian ini tidak muncul.

Part lain yang agak mengecewakan dan terasa kentang alias tanggung adalah adegan perang, gue merasa adegan perangnya kurang seru. Ya, tetapi gue berusaha untuk memahami karena yang dilakukan adalah perang sihir, bukan perang fisik. Hal macam apa lagi yang bisa gue harapkan dari perang jarak jauh dengan menggunakan tongkat yang bisa mengeluarkan sinar berwarna-warni? Yah, you know what I mean. No offense, dear Potterhead, I just being honest.

Lalu, ada satu scene yang menurut gue bocor fatal, fail, yaitu scene naga terbang di atas kota London. Lalu, pada scene itu terlihatlah si cantik London Eye. Gue bertanya pada salah satu kawanku yang adalah Potterhead tentang setting cerita Harry Potter. Teman gue ini mengatakan bahwa setting tahunnya antara 1990-1998. Sedangkan, London Eye sendiri baru diresmikan pada akhir tahun 1999. Film ini jadi terasa terlalu modern, di saat seharusnya sedikit terasa vintage a la wizard. Ya nggak tau juga sih kalo setting tahun filmnya ternyata beda sama setting tahun buku. But please, CMIIW.

Bloopers (well, gue agak khawatir nulisnya. So, please, anyone correct me if I’m wrong) saat Fred-George bersebelahan, keduanya memiliki sepasang telinga yang utuh setelah dicerita sebelumnya seharusnya George kehilangan salah satu daun telinganya. Is his ear finally can be fixed?

Lalu, mungkin karena harus diringkas seringkas-ringkasnya isi buku Harry Potter 7, sehingga di filmnya banyak karakter yang perannya harus dikurangi. Yes, the problem is again on me, I read the book. That makes me ask too much, expect too high.

Tapi, banyak juga hal-hal yang patut diacungi jempol untuk Harry Potter 7/2 ini. Pertama adalah tentu saja scene pertama di Hogwarts yang dengan tepat berhasil menggambarkan betapa kelam dan mencekamnya suasana Hogwarts. Lalu, pastinya acting dari para pemainnya yang luar biasa, emosional.
Salah satunya adalah acting Alan Rickman sebagai Severus Snape. Ia berhasil 100% menunjukkan sisi lain dari si evil-face Snape. Terutama saat scene pensieve. Saat baca bukunya, gue tidak merasa hal itu menjadi kejutan ataupun emosional, tetapi saat menonton filmnya, tuan Alan berhasil membuat gue berurai air mata.


Karakter lainnya yang begitu menjiwai adalah Lord Voldemort yang diperankan oleh Ralph Fiennes, gue rasa karakter ini akan cukup lama menempel pada Ralph yang notabene memang memiliki muka angkuh dan sombong.

Lanjut ke scene-scene ter-oke. Akan sedikit spoiler nampaknya bagi yang belum nonton. Saat scene perang antara Hogwarts dengan Deatheaters, penggambaran scene ini terasa sangat Lord of the Ring: The Two Towers. Yah wajar, karena kenyataannya J.K. Rowling pun mengakui ia memperoleh banyak influence dari J.R.R. Tolkien. Tapi, scene ini keren sekali lho menurut gue. Sungguh.
Scene oke lainnya adalah Molly vs Belatrix (gue yakin banyak yang setuju), “Not my daughter, you bitch!”. Nah, pada scene ini baru terasa menarik battle-nya, serangan bertubi-tubi yang emosional dari Molly, ditambah penonton tahu siapa yang harus mendapat sorakan dukungan.
Lalu, scene roller coaster Gringgots yang membuat jantung ikutan naik turun.
Scene yang cukup menyita perhatian gue adalah scene pertama munculnya Bill Weasley, oh my God dia ganteng banget lho sumpah. Scene ini membekas cukup lama di kepala gue.

Scene ter-oke jelas saat Harry Potter, Ron, Hermione, dan anggota Orde of the Phoenix muncul di hall, di hadapan Snape.

Gue sekarang selalu berusaha untuk menangkap makna yang ingin disampaikan dalam setiap film yang gue tonton. Dari Harry Potter and the Deathly Halows part 2 ini sangat jelas yang ingin disampaikan adalah kekuatan cinta (kasih) akan selalu menang. Semua karakter di film ini digambarkan memiliki cinta (kasih) yang besar. Harry karena kasihnya kepada Dumbledore yang membuatnya menjalankan seluruh tugas yang diberikan. Harry yang karena rasa kasihnya kepada seluruh teman-temannya yang membuatnya terus bertahan dan berjuang sampai akhir.
Cinta juga muncul antara Ron-Hermione, keluarga Malfoy, Keluarga Weasley, Remus-Tonk, Snape-Lily, Harry-Ginny, Neville-Luna, bahkan rasa cinta Professor McGonagall terhadap Hogwarts.

Over all, gue menyerahkan point sebesar 3 dari 5 kepada film Harry Potter and the Deathly Hallows part 2.

Maybe it's not a humble review. I'm sorry for that. Then I hope you can enjoy my review. Please give me any comment or correction if I made mistakes on this review. Other review will be coming very soon.

Cheers and Beer,
Lisnaadwi

You Might Also Like

4 Comments

  1. Aku numpang komentar ya, Na.
    Pertama-tama, aku mau nanya siapa itu temenmu yg Potterheads? *batuk2 cetil merasa diomongin* :D

    Yep, emang susah ya kalo kita nonton film adaptasi dari novel dan kita udah hapal sama semua kejadian dan sifat karakternya. Gw jg ngerasa hal yg sama. Kecewa krn gak ada cerita masa lalu Dumble. Pun juga epilogue yg terasa sgt singkat (Ron bahkan gak ngomong apa2!). Ketek deh nih si Yates!
    Anyway, ada minus, ada plus. Plus nya gw suka gimana seluruh adegan perang berubah total. Satu2 yg sama percis dgn di novel cm Molly vs Bella. Harry-Voldy, Neville, Luna, McGonaggal, semua melakukan hal yg beda. Ini sepertinya ciri Yates ya.

    Oh ya, London Eye itu apa Na? Mata lo awas bgt deh sama kupingnya si Gorgie. :D

    Udah ah segitu aja. Keep up writing Na! (Pesan ini juga ditujukan utk diri gw sendiri).

    ReplyDelete
  2. @mandapuspi Terima kasih komennya, cantik.
    Iya Potterhead yang kumaksud itu kamuuuu :D
    Iya nih tiba-tiba Ronnya jadi terasa anteng gitu, kan harusnya dia semakin lucu :(

    Lo gak tau London Eye? Buka lah si Google dan search.
    Hahaha gue suka cari bloopers dalam film, makanya ngeh :p

    Yup yup! We have to keep writing walopun berantakan :p

    ReplyDelete
  3. entah kenapa aku ingin jujur disini ._.

    aku kok ya ngerasa adegan perang molly-bella itu semacam anti-klimaks, kurang seru gitu, well, semua adegan perangnya buatku sih ga lebih dari adu neon doang. yang keren sih pas patung2 hogwarts pada keluar, eik merinding. terus adegan ciuman ron sama hermione entah kenapa malah gengges. dan adegan years laternya itu juga #fail, aku nungguin padahal ron bilang, i'm just famous atau apa gitu. lupa. haha

    tapi overall, filmnya bagus sih dan aku suka. aktingnya mcgonagall disini yg paling juara. alan rickman juga pasti. voldy malah kocak. hahaha

    gue harap, 10 atau entah beberapa tahun kedepan, ada re-make buat film HP 1 - 7 :D

    lagi-lagi, tulisanmu detil sekali, na. bagus! :D

    ReplyDelete
  4. Tengkyuuuu Anye.
    Iya si McGonagall okeh banget emang deh.

    Amiiin. Kalo kesampean ada re-make Harry Potter, pasti tak akan kulewatkan :D

    ReplyDelete

Instagram

Subscribe