Pintu Terlarang

12:02 PM




Karya Joko Anwar
Produksi Lifelike Pictures
Produser Sheila Timothy
Dibintangi oleh Fachri Albar, Marsha Timothy, Ario Bayu

Gambir digambarkan sebagai tokoh yang menyimpan beribu kebimbangan dalam hatinya. Ia disebut lemah dan memang menjadi tokoh yang kerap tidak memiliki ketegasan dan mudah sekali dipengaruhi oleh Talyda, istri yang sangat dicintainya. Akan tetapi, Gambir digambarkan masih memiliki sisi peri-kemanusiaan.

Sedangkan, sosok Talyda terlihat misterius, digambarkan sebagai sosok wanita yang cerdas dan mampu memengaruhi seseorang. Ia pintar memainkan kata dan selalu mampu membuat Gambir menuruti permintaannya. Di saat penonton mengetahui betul Gambir sangat mencintai Talyda, tetapi dibuat bertanya apakah Talyda juga mencintai Gambir. Kalimat “I love you, Gambir” yang diucapkan Talyda pun terdengar datar, seolah hanya sebuah ucapan tanpa makna. Bahkan, terdengar memaksa.

Film ini dibuka dengan sebuah scene pameran patung. Dalam scene ini, digambarkan teman-teman Gambir yang merasa iri pada Gambir karena memiliki Talyda sebagai istri. Akan tetapi, scene ini membuat penonton memulai spekulasinya karena Gambir tidak terlihat senang sama sekali dengan pameran tunggalnya ini. Dia bahkan melarikan diri keluar gedung. Kemudian, pada segmen ini terdapat scene, Gambir dan Talyda berdiri berdampingan di luar gedung pameran dan mereka terlihat seperti sepasang penjahat misterius dalam film thriller, scene ini menjadi salah satu scene yang membekas di ingatan saya.

Tokoh utama dalam film ini adalah Gambir dan Talyda, tetapi di antara mereka banyak sekali tokoh-tokoh ketiga yang misterius dan membawa kecurigaan bagi penonton. Namun, tokoh-tokoh ketiga ini selalu muncul pada Gambir dan mengucapkan kata-kata aneh. Contohnya tokoh ketiga:
Bapak tua di klinik: Dia tidak malu, tapi dia memang tidak ingin punya anak dari kamu. Dia musuh kamu.
Nenek tua di pasar: Kenapa kamu tidak pernah menutup pintu?
Serta, tokoh-tokoh lain yang sering kali berubah sikap. Seperti Talyda dan Dandung (Ario Bayu), salah satu sahabat Gambir. Mula-mula mereka terlihat biasa saja, namun dapat tiba-tiba berubah menjadi misterius dan mencurigakan. Film yang mendapat banyak pujian ini benar-benar mampu meningkatkan rasa penasaran penonton.

Selain itu, Title frame film ini dalam bentuk grafis, animasi, menarik sekali dan cukup menggambarkan isi film. Hal lain yang saya suka dari film ini adalah penggunaan tone warna yang tepat dan mendukung sebuah scene, tone warna yang cenderung redup dan pada beberapa scene justru terkesan kelam. Lalu, lokasi-lokasi pengambilan gambar yang membuat film ini seolah tidak dibuat di Jakarta. Kemudian, scoring yang mampu mendramatisasi secara maksimal. Music score ini ditangani oleh para jenius musik, Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Ramondo Gascaro.

Kelemahan dalam film ini terdapat pada dua scene terakhir yang muncul sebelum dan sesudah credit title. Scene tersebut jusru membuat keseluruhan cerita menjadi gantung, aneh, dan semakin membingungkan.

Selain itu, dalam film ini muncul banyak simbol-simbol, yang sampai saat ini, masih tidak saya mengerti. Simbol-simbol yang jelas terlihat adalah billboard yang bertuliskan “Be a good wife. Get a job” dan sebuah topeng babi yang digunakan Gambir saat membuat patung. Lalu, nama-nama jalan “Jl. Anomali” dan “Jl. Modus”. Seolah, sutradara ingin menyampaikan pesan lebih melalui film ini.

Sama halnya dengan film-film karya Joko Anwar lainnya, secara keseluruhan Pintu Terlarang menggambarkan cinta yang ironis. Sebuah film dengan genre thriller yang di-direct dengan sangat apik. Film yang mampu mengatur pikiran penonton untuk melihat alur cerita sesuai dengan keinginan sutradara. Penonton dibuat percaya sepenuhnya pada apa yang dilihatnya, tanpa sempat berpikir tentang kemungkinan lain. Perasaan penonton dibuat terbawa pada setiap scene dan dibuat penasaran dengan kelanjutan setiap kisah yang muncul.

Secara keseluruhan, film yang dinobatkan sebagai Best Film dalam Puchon International Fantastic Film Festival ini adalah film sangat layak ditonton, atau mungkin harus ditonton. Saya memberikan nilai 4 dari 5.

Cheers and Beer,
Lisnaadwi

You Might Also Like

0 Comments

Instagram

Subscribe